Wednesday, 2 January 2013

PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM-MACAMNYA



PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM-MACAM TAUHID

Tauhid menurut bahasa adalah meng-Esakan. Sedangkan menurut syariat adalah meyakini keesaan Allah. Adapun yang disebut ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang akidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya. Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya. Dalilnya dari firman-firman Allah, di samping dalil-dalil aqliyah :
“Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
                                                                                                (QS 42:11)
Seluruh alam semesta ini diciptakan oleh Allah, dan tidak ada pelaku yang bertindak sendiri dan merdeka sepenuhnya selain Allah.
Di bawah ini akan dibahas macam-macam tauhid, diantaranya Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ Wa Sifat.


1.     Tauhid Rububiyah.
Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk-Nya. Dan alam semesta ini diatur oleh Mudabbir (Pengelola), Pengendali Tunggal, Tak disekutui oleh siapa dan apapun dalam pengelolaan-Nya. Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musrik yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga mengakui keesaan rububiyah-Nya. Jadi jenis tauhid ini diakui semua orang. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lainnya. Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakini-Nya.
Alam semesta dan fitrahnya tunduk dan patuh kepada Allah. Sesungguhnya alam semesta ini (langit, bumu, planet, bintang, hewan, pepohonan, daratan, lautan, malaikat, serta manusia) seluruhnya tunduk dan patuh akan kekuasaan Allah. Tidak satupun makhluk yang mengingkari-Nya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-masing, serta berjalan menurut aturan yang sangat sempurna. Penciptanya sama sekali tidak mempunyai sifat kurang, lemah, dan cacat. Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir, dan qadha’-Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan, dan dikendalikan-Nya.
 Allah Ta’ala berfirman
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah : 1)
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah. Dan itulah yang disebut Tauhid Uluhiyah. Jadi tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.

2.     Tauhid Uluhiyah.
Tauhid Uluhiyah yaitu ibadah. Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali atau taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul. Disebut demikian, karena tauhid uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya, “Allah” yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah), dan juga karena tauhid uluhiyah merupakan pondasi dan asas tempat dibangunnya seluruh amal. Juga disebut sebagai tauhid ibadah karena ubudiyah adalah sifat ‘abd (makhluknya) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah : 163)
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari,“Sampai mereka mentauhidkan Allah”.

Manusia ditentukan oleh tingkatan din. Din sendiri berarti ketaatan. Di bawah ini adalah tingkatan din :
·         Islam
Islam menurut bahasa adalah masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’, Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepada-Nya,  taat, dan membebaskan diri dari syirik dan pengikutnya.
·         Iman
Iman menurut bahasa berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan menurut syara’, iman berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan perbuatan dengan anggota badan.
·         Ihsan
Ihsan menurut bahasa berarti kebaikan, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji. Sedangkan menurut syara’ adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh baginda Nabi yang artinya “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bias melihay-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata “Ihsan itu mengandung kesempurnaan ikhlas kepada Allah dan perbuatan baik yang dicintai oleh Allah”.

Rasulullah menjadikan din itu adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Maka jelaslah bahwa din itu bertingkat, dan sebagian tingkatannya lebih tinggi dari yang lainnya. Tingkatan yang pertama adalah Islam, tingkatan yang kedua adalah Iman, dan tingkatan yang paling tinggi adalah Ihsan.

3.     Tauhid Asma’ Wa Sifat.
Tauhid Asma’ Wa Sifat yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an dan Sunah Rasul-Nya. Maka barang siapa yang mengingkari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya atau menamai Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya atau menakwilkan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasulnya.
Allah Ta’ala berfirman
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. Asy-Syuura : 11)
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah.


Sifat-sifat Allah dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
·         Sifat Dzatiyah
Sifat Dzatiyah yaitu sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya. Sifat ini berpisah dengan dzat-Nya. Seperti berilmu, kuasa atau mampu, mendengar, bijaksana, melihat, dll.
·         Sifat Fi’liyah
Sifat Fi’liyah adalah sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti bersemayam di atas ‘Arasy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir malam, dan dating pada Hari Kiamat.

Tauhid asma’ wa sifat ini juga berpengaruh dalam bermuamalah dengan Allah. Di bawah ini contoh-contohnya :
·         Jika seseorang mengetahui asma’ dan sifat-Nya, juga mengetahui arti dan maksudnya secara benar maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan Rabbnya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk, patuh, dan khusyu’ kepada-Nya, takut dan mengharapkan-Nya, serta bertawassul kepada-Nya.
·         Jika ia mengetahui jika Rabbnya sangat dahsyat azab-Nya maka hal itu akan membuatnya merasa diawasi Allah, takut, dan menjauhi maksiat terhadap-Nya.
·         Jika ia mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun, Penyayang, dan Bijaksana maka hal itu akan membawanya kepada taubat dan istighfar, juga membuatnya bersangka baik kepada Rabbnya dan tidak akan berputus asa dari rahmat-Nya.
·         Manusia akan mencari apa yang ada di sisi-Nya dan akan berbuat baik kepada sesamanya.



DAFTAR PUSTAKA
Shalih.2010.Kitab Tauhid I.Jakarta:Darul Haq.

WAHYU DAN AKAL


Pengertian Akal Dan Wahyu
Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya.
Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah. Akal berasal dari bahasa Arab 'aql yang secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Dengan akal, dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang esensial hidup ini. Akal fikiran tidak hanya digunakan untuk sekedar makan, tidur, dan berkembang biak, tetapi akal juga mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang asal-usul, alam dan masa yang akan datang. Kemampuan berfikir mengantarkan pada suatu kesadaran tentang betapa tidak kekal dan betapa tidak pastinya kehidupan ini.
Menurut bahasa Wahyu berarti pemberian isyarat, pembicaraan dengan rahasia, menggerakkan hati. Sedangkan secara terminology wahyu berarti pemberitahuan Allah kepada nabi-NYA  yang berisi penjelasan dan petunjuk kepada jalan-NYA yang lurus. Selanjutnya dijelaskan lebih dalam bahwa pengertian makna wahyu meluas menjadi beberapa makna, diantaranya adalah sebagai: 
·         Perintah
·         Isyarat, seperti yang terjadi pada kisah Zakaria
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat." Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang." (Maryam 10-11)
·         Ilham secara kodrati dan insting
Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah at-Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak.
Perlunya wahyu menurut akal
Salah satu hal yang penting mendapatkan penjelasan oleh akal melalui wahyu Tuhan adalah konsep Khilafah. Konsep Khilafah yang berasaskan wahyu memberikan wewenang kepada akal atau rasio dalam usaha mencapai tujuannya. Asas yang dimaksud adalah asas Taklif. Akan tetapi bukan sekedar tipologi taklif yang diserahkan begitu saja dalam realita kehidupan manusia. Banyak eksperimen sejarah membuktikan bahwa aplikasi sebuah paham, madzhab, dan tata kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia kurang mencapai sasaran dikarenakan factor menjamurnya problematika yang kadang-kadang disebabkan oleh keracunan asas teoritisnya.
Adapun peran akal atau rasio dalam mendukung konsep khilafah meliputi dua periode yang tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi, peran tersebut memiliki perbeeaan dari sisi jenisnya yaitu periode pemahaman dan periode aplikasinya dalam realita. Periode pemahaman erat kaitannya dengan proses interaksi akal terhadap wahyu sebagai wahana dalam menunjukan maksud Allah. Sedangkan nash tidak lain hanyalah symbol linguistic yang mempunyai kekuatan hukum untuk membatasi apa yang sewajarnya dilakukan oleh seluruh manusia di setiap zaman.
Percampuradukkan atara dua periode ini, dan mengesampingkan peran masing-masing substansinya dalam upaya menggali, memperlihatkan, dan memaksimalkan kerja akan mengakibatkan ketimpangan produk setiap khilafah.
1.      Realitas pemahaman.
Wahyu dalam kaitan ini adalah Al-Qur’an sebagai pembatas konsep khilafah dengan teks-teks linguistik bahasa Arab adalah nash-nashyang memuat asas undang-undang dalam skala hukum secara global, baik itu perintah dan larangan yang mempunyai korelasi erat dengan amal manusia, yaitu amal yang harus ditinggalkan, sesuai dengan tingkatan amal manusia tanpa terikat oleh waktu dan tempat.
2.      Asas-asas pemahaman akal
Agar dapat mengalokasikan perannya dengan optimal, akal atau rasio harus berlandaskan pada asas yang dapat mengantarkannya menuju ke pemahaman. Asas tersebut, secara umum, dikembalikan kepada factor karakteristik wahyu atau kepada karakteristik akal.
Diantara asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Asas bahasa
Hal ini berkaitan bahwa undang-undang linguistic memberikan perhatian yang serius dalam sisi pengungkapan (tabir). Hal itu karena wahyu turun dalam bahasa Arab. Tabiat bahasa Arab adalah mengikatkan atau memesankan secara umum, namun yang dimaksud adalah zahirnya.
b.      Asas maksud dan tujuan
Allah dalam menurunkan wahyu mempunyai tujuan yang erat kaitannya dengan segi-segi kemanusiaan. Imam Asy-Syathibi menguraikan urgensi maksud ini menjadi lima:
 1.      Menjaga agama
2.      Menjaga jiwa
3.      Menjaga keturunan
4.      Menjaga akal atau rasio
5.      Menjaga harta
Maksud dan tujuan tersebut di dukung dengan turunnya wahyu dalam merealisasikan tujuan kemaslahatan manusia.
c.       Asas keadaan
Wahyu (Al-Qur’an) turun secara berangsur-angsur dalam tempo 23 tahun. Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa tidak semua kondisi dapat diterima atau disampaikan dan tidak semua konteks mempunyai kesesuaian dengan kalimat yang tersurat. Kalau seandainya ada sebagian konteks yang tertinggal maka hilang pula pemahaman kalimat secara global atau salah satunya. Dan, mengetahui sebab-sebab dapat menghilangkan segala ketimpangan dalam format semacam ini. Diantaranya adalah mengetaui adat orang Arab baik bahasa, aktivitas, serta situasi dan kondisi saat diturunkannya ayat atau surat tersebut.
d.      Asas integral
Wahyu, baik Al-Qur’an maupun hadits, sebagai kitab Allah kepada hamba-NYA adalah kesatuan integral yang merangkai konsep khilafah bagi manusia.
e.       Asas rasio
Rasio yang dimaksud bukanlah apa yang tersusun dalam akal manusia atau manthiq secara fitrah yang memola dasar setiap pemahaman. Namun, yang dimaksud adalah sesuatu yang dapat mengantarkan rasio manusia dari beragam ilmu dan pengetahan sebagai produk dari sebuah pengamatan dan penelitian. Ilmu pengetahuan ini mempunyai kemungkinan untuk dijadikan sebagai dasar dalam memehami  maksud Allah dalam nash-nash wahyu.
DAFTAR PUSTAKA
 An-Najar, Abdul Majid. 1993. Khilafah-tinjauan wahyu dan akal. Cet. 2. Beirut, dar al-Gharb al-Islami. 


Labels